oleh: Khairi Mizwar
Udang Windu biasa hidup di perairan pantai yang berlumpur atau berpasir. Berasal dari perairan laut antara Afrika Selatan dan Jepang, dan antara Pakistan Barat sampai Australia Bagian Utara. Udang Windu (Panaeus monodon) dalam bahasa daerah udang ini dinamakan juga sebagai udang pancet, udang bago, udang lotong, liling, udang baratan, udang palaspas, udang tepus, dan udang userwedi. Dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama ”tiger prawn” atau ”jumbo tiger prawn” .
Klasifikasi Udang Windu (Penaeus monodon) menurut Suwignyo, 1997, adalah sebagai berikut :
Filum : Crustacea-------Kelas : Malacostraca--------------Subkelas : Decapoda-----------------------Ordo : Natantia------------------------------Famili : Peneidae--------------------------------------Genus : Penaeus----------------------------------------------Spesies : Penaeus Monodon
Secara morfologi tubuh Udang Windu dibedakan atas cephalothorax yang terdiri atas kepala dan dada serta bagian abdomen (perut). Pada bagian kepala terdapat sepasang mata bertangkai, sepasang antena, sepasang antenula, sepasang mandibula dan sepasang maksila. Pada bagian dada terdapat tiga pasang maksiliped dan lima pasang kaki renang (pleopod) serta sepasang uropod yang terletak di samping telson. Bagian kepala dan dada tertutup oleh sebuah kelopak kepala atau cangkang kepala yang disebut karapas dan di bagian depan kelopak kepala terdapat rostrum yang memanjang dan bergerigi.
Dalam perkembangannya Udang Windu mengalami beberapa kali perubahan stadia. Dimulai dari menetasnya telur menjadi larva melalui stadia neuplius yang terdiri atas 6 substadia zoea dan mysis masing-masing 3 substadia. Telur menetas setelah 10-12 jam, nauplius selama 2 hari, zoea selama 4-5 hari dan stadia mysis selama 3-4 hari. Stadia mysis akan berkembang menjadi post larva dan seterusnya menjadi juvenil serta akhirnya tumbuh menjadi udang dewasa.
Pergantian kulit merupakan awal pertumbuhan pada Udang Windu. Setelah kulit udang yang mengandung kitin tersebut terlepas maka udang dalam keadaan lemah dan kulit baru belum mengeras. Pada saat itulah udang tumbuh. Peristiwa tersebut dibantu dengan penyerapan air dalam jumlah besar. Proses pergantian kulit (moulting) ini merupakan indikator dari pertumbuhan Udang Windu. Apabila proses pergantian kulit cepat, maka pertumbuhan akan semakin cepat pula. Selama Udang Windu berganti kulit biasanya tidak nafsu makan, udang tidak banyak bergerak dan mata terlihat pada tangkai mata udang aktif.
Udang Windu merupakan hewan noktural yaitu aktif mencari makanan pada malam hari, sedangkan pada siang harinya berada di dasar laut (Tseng 1987). Sifat yang umum pada udang adalah sifat kanibal yaitu suatu sifat yang suka memangsa jenisnya sendiri. Sifat ini sering timbul pada udang yang sehat, yang tidak sedang ganti kulit dan kekurangan makanan.
Udang Windu hidup normal pada kisaran temperatur air (21-32)oC dengan kisaran temperatur optimal (28 ± 1)oC. Udang Windu mengalami stres pada temperatur 20oC atau kurang dan 32oC atau lebih dan akan mengalami kematian pada temperatur 35oC.
Udang bersifat demersal, yaitu hidup di dasar perairan sehingga dalam pengelolaan kualitas air perlu mempertimbangkan kondisi dasar tambak yang dibutuhkan udang;
Udang bersifat nocturnal, yaitu aktif pada malam hari sehingga perairan tambak perlu disesuaikan dengan proses biologi, kimia, fisika dan ekologi yang terjadi di dalamnya terutama pada malam hari;
Udang bersifat phototaksis negatif, yaitu menghindari adanya cahaya secara langsung. Sifat ini berhubungan dengan pengelolaan kecerahan air tambak yang dapat menghalangi penetrasi cahaya secara langsung;
Kanibalisme, yaitu pemangsaan yang dilakukan udang terhadap udang lainnya yang lebih lemah. Sebagai usaha mengurangi terjadinya kanibalisme maka perairan tambak perlu didukung dengan ketersediaan pakan alami yang cukup dan kondisi dasar tambak memungkinkan bagi udang yang berada dalam kondisi lemah untuk berlindung dari pemangsaan;
Moulting, yaitu proses alami pertumbuhan udang dengan cara berganti kulit atau sebagai respons terhadap perubahan lingkungan yang bersifat drastis.Pengelolaan air tambak sedapat mungkin tidak menimbulkan guncangan terhadap keseimbangan perairan agar tidak terjadi moulting massal, karena pada saat moulting
udang berada dalam kondisi yang lemah dan sangat rentan terhadap penyakit dan pemangsaan
Tingkat kebutuhan udang terhadap kualitas perairan relatif berubah berdasarkan umur udang.
Feeding habits dapat diartikan sebagai kebiasaan pola makan dari udang yang mencakup cara, waktu, area, dan tingkat kebutuhan pakan berdasarkan kebiasaan alaminya, yang selanjutnya akan akan diuraikan seperti di bawah ini, yaitu :
Cara. Udang dalam aktifitasnya mencari makanan lebih mengandalkan rangsang bau dibandingkan dengan penglihatannya, karena sebagai biota yang hidup di dasar perairan dengan tingkat intensitas matahari yang relatif rendah indera penciuman akan lebih berfungsi dibandingkan dengan penglihatannya. Udang biasanya tertarik dengan sumber makanan yang berbau relatif amis dan menyengat yang teridentifikasi melalui indera penciumannya dan antena/sungut yang berfungsi sebagai peraba.
Waktu. Seperti telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya bahwa udang adalah biota yang bersifat nocturnal dan phototaksis negatif yang berarti udang lebih cenderung aktif makan pada malam hari dibandingkan pada siang hari.
Area. Berdasarkan area/habitatnya udang merupakan biota yang bersifat demersal dan cenderung benthic yaitu hidup dan aktif di dasar perairan. Sifat inilah yang mengkondisikan udang mencari sumber makanannya juga di dasar perairan.
Tingkat Kebutuhan. Udang di dalam siklus hidupnya memiliki tingkat kebutuhan pakan yang bersifat fluktuatif terutama dalam hal yang menyangkut umur, jenis makanan dan nafsu makannya. Udang pada usia tebar (benur) cenderung tergantung pada pakan alami yang berupa zooplankthon dan organisme renik lainnya yang tersedia di dalam perairan. Pada udang yang sedang yang mengalami proses moulting nafsu makannya cenderung turun drastis, tapi sebaliknya setelah proses moulting selesai nafsu makan udang akan meningkat kembali dan cenderung rakus.
Food habits dapat diartikan sebagai kebiasaan makan udang ditinjau dari segi jenis makanan yang biasa dikonsumsi udang. Di dalam habitat alaminya udang adalah suatu biota perairan yang bersifat omnivora tapi lebih dominan ke arah carnivora. Sifat ini menempatkan udang sebagai biota perairan yang memakan segala macam sumber makanan yang ada di perairan tersebut, tetapi mempunyai kecenderungan sebagai pemakan hewan. Salah satu sifat mendasar yang dimiliki oleh udang adalah sifat kanibalisme yaitu memangsa udang lainnya yang sedang dalam kondisi lemah dan sebagai pemakan bangkai dari biota perairan lainnya. Di dalam perairan tambak udang mempunyai kecenderungan memilih pakan yang bersifat alami dibandingkan dengan pakan buatan, selama di dalam perairan tersebut ketersediaan pakan alami bagi udang masih mencukupi.
Secara fisiologis parameter yang erat hubungannya dengan feeding habit dan food habit adalah organ pencernaan udang yang memiliki karakteristik dibandingkan dengan organisme lainnya, karena melalui organ ini dapat dipantau kondisi dan kualitas udang berdasarkan nafsu makannya. Organ pencernaan udang secara garis besar terbagi atas dua bagian besar yaitu :
Usus yang terletak di bagian punggung bagian atas dan sangat jelas terlihat lewat pengamatan visual. Melalui usus udang dapat diidentifikasi nafsu makan, tingkat konsumsi pakan, jenis pakan dari udang yang diamati
Hepathopanchreas yang dapat diidentikkan dengan lambung udang. Organ ini merupakan pusat dari pencernaan udang dan terletak di bagian kepala dan pada kondisi normal berbentuk segitiga serta berwarna kecoklatan. Melalui pengamatan visual dari hepathopanchreas dapat diidentifikasi kondisi dan kualitas udang yang terkait dengan nafsu makannya. Pada kasus-kasus tertentu organ ini dapat pula untuk mengidentifikasi tingkat keparahan suatu permasalahan yang menjangkiti udang.
Pengetahuan dan pemahaman dari feeding habit dan food habit serta organ pencernaan udang adalah faktor yang mutlak untuk dikuasai dalam penyusunan program pemberian pakan yang akan diterapkan dalam kegiatan budidaya udang agar dapat tercipta adanya efisiensi dan efektifitas pemberian pakan yang dapat menghasilkan udang dengan kondisi dan kualitas yang menguntungkan dari segi produksi. Beberapa dasar pemikiran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan pentingnya penyusunan program pemberian pakan udang antara lain:
Ketersediaan pakan alami di dalam perairan tambak sebagai suatu ekosistem yang tertutup relatif sangat terbatas baik dari segi kualitas maupun kuantitas ditinjau dari tingkat kebutuhan udang untuk melakukan perkembangan dan pertumbuhannya.
Ruang gerak udang di dalam perairan yang dibatasi oleh petakan tambak relatif sangat kurang, sehingga tidak memungkinkan udang untuk mencari alternatif pakan lainnya di luar lingkungannya.
Pakan udang merupakan pemasok utama kebutuhan nutrisi dan gizi dengan komposisi seimbang yang diperlukan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan udang di dalam perairan dan tidak dapat diperoleh melalui pakan alami.
Pakan udang dari segi finansial merupakan faktor yang paling besar peranannya dalam hal biaya produksi dibandingkan dengan faktor lainnya, sehingga penerapan program pakan yang tidak benar dapat mengakibatkan pembengkakan biaya produksi dan dapat memperkecil profit value yang didapatkan.
Pakan udang merupakan penyumbang terbesar dalam proses akumulasi pengotoran dasar tambak dengan timbulnya lumpur hitam yang dihasilkan dari proses metabolisme udang dan sisa pakan yang tidak terkonsumsi bagi udang sehingga dapat membahayakan bagi udang.
Tingkat kebutuhan pakan yang telah diberikan dapat dijadikan sebagai estimasi populasi dan biomass udang berdasarkan periode waktu tertentu.
Pakan udang dapat berfungsi sebagai bahan organik yang dapat membantu proses pembentukan dan kestabilan air tambak, terutama pada perairan tambak dengan populasi udang yang padat dan tingkat kebutuhan pakannya relatif tinggi.
Satu hal yang sangat mendasar dalam penyusunan program pakan ini adalah terciptanya suatu kondisi yang mengarah pada program yang mengikuti keinginan dan kebutuhan udang, bukan sebaliknya udang harus mengikuti program yang telah disusun secara sistematis terlebih dulu. Program pemberian pakan yang direkomendasikan adalah program yang disusun berdasarkan pengambilan keputusan yang diperoleh melalui pengamatan kondisi dan kebutuhan udang secara cermat serta bersifat dinamis mengikuti perkembangan yang terjadi di lapangan. Pada situasi udang yang telah dikondisikan untuk mengikuti program pakan yang telah disusun sebelumnya dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah pada populasi dan kualitas udang serta secara tidak langsung berpengaruh pada kualitas perairan.
KESIMPULAN
udang windu bisa hidup dengan tenang dan tumbuh besar,jika keadaan lingkungan yang baik,tidak ada gangguanya,udang windu dapat tumbuh dengan pesat, dalam waktu 5 bulan benih udang yg kurang lebih besarnya 2 cm dapat mencapai berat 75 - 200 gram per ekor dan panjang dari 20 - 35 cm. dengan pertumbuhan yang semakin pesat,maka udang mengalami pergantian kulit yang cukup pesat pula, jadi kondisi udang akan semakin lemah.
udang windu sering hidup di dasar perairan/tambak, makanya kondisi air harus memenuhi selera udang windu,sperti jika airnya tercemar dan banyak mengandung senyawa beracun.dan juga makanan yang kurang, kadar garam naik,suhu naik, oksigen larut kurang,tambak mengandung karbon dioksida(CO2), amoniak(NH3), asam sulfat(H2SO4),pH berubah atau keruh.
udang mempunyai sifat kanibal,apabila makannya tidak ada lalu dia lapar,makan sejenis yang juga akan di makan.
udang windu mencari makan pada malam hari,
udang windu suka molukas, kepiting kecil,ikan-ikan kecil, dan udang-udang yang kecil juga makanannya.

0 komentar:
Posting Komentar